1. Apa Itu PPRA?
Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) adalah program yang dilaksanakan di rumah sakit untuk mengendalikan penggunaan antimikroba secara bijak dan mencegah terjadinya resistensi antimikroba. Program ini melibatkan berbagai tenaga kesehatan, seperti dokter, apoteker, perawat, tenaga laboratorium, dan tenaga kesehatan lainnya. (Kementerian Kesehatan RI, 2015)
Resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR) merupakan kondisi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan sehingga tidak lagi sensitif terhadap obat antimikroba yang sebelumnya efektif untuk mengobati infeksi. Di antara berbagai bentuk AMR tersebut, resistensi bakteri terhadap antibiotik menjadi masalah yang paling banyak dijumpai dalam pelayanan kesehatan. Kondisi ini berdampak pada menurunnya efektivitas terapi, meningkatnya angka kegagalan pengobatan, memperpanjang lama rawat inap, meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, serta meningkatkan angka kesakitan dan kematian
2. Mengapa Penggunaan Antibiotik Harus Bijak?
Antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri virus, jamur, dan parasit. Antibiotik tidak digunakan untuk mengobati infeksi virus, seperti sebagian besar batuk, pilek, dan influenza. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai, seperti mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi, menggunakan obat milik orang lain, menggunakan dosis yang tidak tepat, atau menghentikan terapi tanpa anjuran tenaga kesehatan, dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antimikroba. (WHO, 2023)
3. Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat Dapat Menyebabkan:
- Bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik.
- Infeksi lebih sulit diobati. Risiko kegagalan terapi meningkat.
- Pilihan antibiotik untuk pengobatan menjadi lebih terbatas.
- Lama dan biaya pengobatan dapat meningkat.
- Risiko penyebaran bakteri resisten kepada orang lain meningkat.
Karena itu, antibiotik harus digunakan sesuai indikasi dan petunjuk tenaga kesehatan. (Kementerian Kesehatan RI, 2015; WHO, 2023)
4. Apa Saja Kegiatan PPRA?
PPRA dilakukan melalui berbagai kegiatan untuk memastikan penggunaan antibiotik di rumah sakit tetap rasional dan sesuai pedoman.
Beberapa kegiatan PPRA antara lain:
- Surveilans penggunaan antibiotik untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik di rumah sakit.
- Surveilans resistensi antimikroba untuk mengetahui pola bakteri dan tingkat resistensinya.
- Evaluasi penggunaan antibiotik untuk menilai ketepatan indikasi, pemilihan obat, dosis, rute, dan lama pemberian.
- Edukasi tenaga kesehatan mengenai penggunaan antimikroba yang rasional.
- Penyusunan dan penerapan kebijakan antibiotik sesuai pedoman dan kondisi rumah sakit.
Kolaborasi antarprofesi untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian resistensi antimikroba. (Kementerian Kesehatan RI, 2015; WHO, 2019)
5. Peran Apoteker dalam PPRA
Apoteker memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan PPRA. Apoteker dapat membantu melakukan evaluasi penggunaan antibiotik, memantau terapi pasien, memberikan informasi obat, serta memberikan rekomendasi kepada tenaga kesehatan terkait penggunaan antibiotik yang tepat. Selain itu, apoteker dapat berperan dalam pengumpulan dan analisis data penggunaan antibiotik serta memberikan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya menggunakan antibiotik sesuai aturan. (Kementerian Kesehatan RI, 2015; WHO, 2019)
6. Yuk, Bijak Menggunakan Antibiotik!
Agar penggunaan antibiotik tetap aman dan tepat, ingat beberapa hal berikut:
- Gunakan antibiotik hanya sesuai resep dan anjuran tenaga kesehatan.
- Gunakan antibiotik sesuai dosis, jadwal, dan lama terapi yang telah ditentukan.
- Jangan menggunakan antibiotik milik orang lain.
- Jangan menyimpan atau memberikan antibiotik kepada orang lain.
- Jangan menghentikan atau mengubah terapi tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
- Tanyakan kepada dokter atau apoteker apabila terdapat hal yang belum dipahami mengenai penggunaan obat.
Ingat! Antibiotik bukan obat untuk semua penyakit. Gunakan antibiotik dengan tepat agar tetap efektif ketika benar-benar dibutuhkan. Pengendalian resistensi antimikroba bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan kerja sama dari seluruh pihak, termasuk pasien dan masyarakat.
Pesan Kesehatan
“Gunakan antibiotik secara bijak hari ini, agar antibiotik tetap efektif untuk kita dan generasi mendatang.”
Mari bersama-sama mendukung PPRA dengan menggunakan antibiotik secara tepat, mencegah penyebaran bakteri resisten, dan menjaga efektivitas antibiotik untuk masa depan.
Sumber:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
World Health Organization. (2019). Antimicrobial stewardship programmes in health-care facilities in low- and middle-income countries: A WHO practical toolkit. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2023). Antimicrobial resistance. Geneva: WHO.