Pendahuluan: Kesepian merupakan tantangan emosional signifikan bagi pasien di Intensive Care Unit (ICU) yang sering diperburuk oleh isolasi fisik dan sosial akibat kebijakan pembatasan kunjungan. Kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan fisik pasien, sehingga penting bagi tenaga medis untuk mengembangkan pemahaman mendalam mengenai rasa kesepian pada pasien ICU.
Tujuan: Untuk mengeksplorasi dampak kesepian pada pasien intensive care unit (ICU).
Metode: Desain penelitian tinjauan naratif didapat dari penelitian studi kuantitatif dan kualitatif menggunakan panduan Reporting for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Proses pemilihan artikel menggunakan pertanyaan dengan pendekatan population, concept, dan context (PCC) meliputi; P: Pasien di Intensive Care Unit (ICU); C: dampak loneliness; dan C: outcomes pasien di ICU. Kriteria inklusi pada tinjauan naratif ini adalah artikel full text dapat diakses, dipublikasikan dalam Bahasa Inggris, artikel dengan desain kualitatif dan kuantitatif serta dipublikasikan dalam rentang 5 tahun (2019-2024). Pencarian dilakukan pada tiga database utama (CINAHL)
Hasil: Perasaan kesepian pada pasien ICU berdampak signifikan pada kesehatan emosional, fisik, dan sosial, yang mencakup penurunan kesehatan mental, kualitas hidup, dan peningkatan risiko mortalitas.
Simpulan: Tinjauan ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam perawatan ICU yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan sosial pasien. Dukungan psikososial yang optimal diharapkan dapat mengurangi dampak negatif kesepian dan meningkatkan kualitas hidup pasien ICU.
Saran: Tenaga kesehatan dapat meningkatkan pendekatan yang lebih holistik dengan memperhatikan dukungan psikologis, sosial, dan emosional. Hal ini diharapkan dapat mengurangi perasaan kesepian yang dialami pasien dan pada akhirnya mempercepat proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup pasien di lingkungan ICU
1. PENDAHULUAN
Intensive Care Unit (ICU) adalah lingkungan perawatan intensif yang berfokus pada penanganan pasien dengan kondisi kritis (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022). Di dalam ICU, pasien sering mengalami tekanan fisik dan emosional akibat dari keterbatasan interaksi sosial (Piras, Piazza, Piccolo, Azara, Piana, Finco, & Galletta, 2022). ICU merupakan lingkungan yang tertutup dan penuh dengan peralatan medis yang menciptakan kondisi isolasi bagi pasien (Rusdianti & Arofiati, 2019). Pasien ICU terdiri dari berbagai kondisi kesadaran, termasuk mereka yang tetap sadar dan mampu memberikan respons verbal (Kürtüncü, Kurt, & Arslan, 2023). Kondisi responsif secara verbal ini penting karena memungkinkan pasien untuk menyampaikan kebutuhan, ketidaknyamanan, dan perasaannya (Özdemir, Yaman, & Yilmaz, 2023). Meskipun pasien dapat merespon secara verbal, pasien sangat rentan merasakan perasaan kesepian dan isolasi akibat terbatasnya interaksi langsung dengan keluarga dan orang terdekat mereka.
Banyak faktor memicu rasa kesepian pada pasien ICU, termasuk keterbatasan akses bertemu keluarga dan orang terdekat serta akibat prosedur medis yang intensif (Cook, Takaoka, Hoad, Swinton, Clarke,Rudkowski, & Vanstone, 2021).
Kebijakan pembatasan kunjungan dan kehadiran keluarga atau orang terdekat di ICU telah diterapkan di beberapa negara untuk menjaga keselamatan dan mengurangi risiko penyebaran infeksi (National Health Service England, 2020). Dalam lingkungan ini, pasien sering kali menghadapi tekanan fisik dan emosional yang sangat besar. Loneliness atau perasaan kesepian menjadi salah satu dampak psikologis umum yang dialami oleh pasien ICU, terutama bagi mereka yang memiliki kesadaran dan kemampuan berkomunikasi(Torun, Bulmuş, & Bilgin, 2023). Bagi pasien yangtetap sadar, kehilangan kontak sosial ini dapat memperparah perasaan kesepian dan isolasi yang mereka alami (Bartoli, Trotta, Simeone, Pucciarelli, Orsi, Acampora, & Rocco, 2021). Kesepian adalah fenomena yang cukup umum terjadi pada pasien ICU (Özdemir et al., 2023). Banyaknya pasien yang merasa kesepian menunjukan perlunya perhatian khusus terhadap kondisi psikososial pasien ICU karena kondisi tersebut memiliki dampak yang besar pada kesehatan fisik dan psikologis pasien (Bulut, Çekiç, & Altay, 2023).
Kesepian sering dikaitkan dengan gangguan psikologis, depresi, kecemasan dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang berdampak pada respon fisiologis, menurunkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan risiko komplikasi (Sanfilippo, La Via, Schembari, Tornitore, Zuccaro, Morgana, & Astuto, 2022). Pada pasien ICU, kondisi ini dapat memperburuk hasil perawatan karena menurunnya kemampuan tubuh dalam proses penyembuhan. Kesepian pada pasien ICU menjadi faktor yang berkontribusi signifikan terhadap berbagai hasil kesehatan yang merugikan, termasuk memperpanjang durasi perawatan, peningkatan risiko komplikasi, dan bahkan peningkatan tingkat mortalitas (Teece, Oeding, & Nelson, 2022; Çınar& Eti Aslan, 2017). Pasien yang merasa kesepian cenderung memerlukan waktu pemulihan yang lebih lama dan menghadapi tantangan medis tambahan (Soghrati, Arsalani, Mohamadi, Vahedi, & Ajami, 2023). Dampak ini menunjukan bahwa perasaan kesepian merupakan faktor risiko yang perlu diperhatikan dalam perawatan pasien ICU.
Mengingat dampaknya sangat signifikan terhadap kesehatan dan kualitas hidup pasien,penting bagi tenaga medis untuk mengembangkan pemahaman mendalam mengenai rasa kesepian pada pasien ICU. Namun, penelitian yang mendalam mengenai dampak kesepian pada pasien ICU masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak kesepian pada pasien ICU dengan harapan dapat menjadi panduan bagi tenaga medis dalam memahami efek kesepian dan dapat merancang intervensi yang tepat untuk mendukung kesejahteraan fisik dan emosional pada pasien ICU.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kesepian pada pasien ICU memiliki dampak yang signifikan pada hasil kesehatan, mencakup aspek emosional, fisik, dan sosial. Kesepian mengakibatkan penurunan kesehatan mental, menurunkan kualitas hidup, memperlambat proses pemulihan, dan meningkatkan risiko mortalitas (Bulut et al. 2023; Neville et al. 2022; Lehmkuhl et al. 2024; Torun et al., 2023). Pasien yang mengalami isolasi di ICU menghadapi tantangan emosional yang berat, termasuk kecemasan terhadap kematian dan penurunan harapan hidup yang semakin memperburuk kondisi mereka (Torun et al., 2023). Penelitian lain memperkuat temuan ini dengan mengungkapkan bahwa kesepian di ICU berkorelasi dengan kecemasan terhadap kematian dan penurunan harapan hidup pada pasien yang menambah beban psikologis selama perawatan intensif (Yildirim et al., 2024).
Kesepian pada ICU berkorelasi dengan Post-Intensive Care Syndrome (PICS) dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang berdampak jangka panjang pada kesejahteraan mental pasien (Neville et al. 2022). Penelitian lain menyatakan bahwa isolasi sosial yang dirasakan pasien ICU tidak hanya menimbulkan distress emosional, tetapi juga mengakibatkan tantangan dalam reintegrasi sosial dan penyesuaian pasca-ICU, memperburuk kualitas hidup pasien setelah keluar dari perawatan (Lehmkuhl et al. 2024).
Kesepian pada ICU adalah kondisi yang kompleks dan berdampak luas pada berbagai dimensi kesehatan. Tinjauan naratif ini menegaskan pentingnya intervensi holistik di ICU yang tidak hanya fokus pada penanganan fisik pasien, tetapi juga kesejahteraan mental dan sosial mereka. Pendekatan yang menyeluruh dalam mengelola kesepian dapat membantu memperbaiki kualitas perawatan pasien, mempersingkat waktu pemulihan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Dampak emosional dan psikologis dari kesepian pada pasien ICU tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga hasil perawatan pasien secara keseluruhan serta dinamika pelayanan kesehatan di ICU. Isolasi mendalam yang dialami oleh pasien ICU menciptakan beban emosional yang signifikan (Bulut et al., 2023). Hal ini diperkuat perasaan distress dan memicu komplikasi kesehatan mental, seperti peningkatan kecemasan dan distress psikologis yang berkepanjangan (Torun et al., 2023). Dampak psikologis ini semakin intensif di lingkungan ICU ketika keterbatasan interaksi sosial dan suasana yang steril menciptakan jarak dari sistem dukungan yang dikenal, sehingga memperkuat perasaan kesepian dan keterasingan (Sasangohar, Dhala, Zheng, Ahmadi, Kash, & Masud, 2021).
Salah satu artikel yang ditelaaah menunjukan bahwa isolasi ini tidak hanya menghambat stabilitas emosional langsung, tetapi juga memiliki efek jangka panjang terhadap ketahanan psikologis pasien yang pada akhirnya mengakibatkan ketidakseimbagnan emosional dan memperumit proses pemulihan (Lehmkuhl et al., 2024). Pasien sering kali mengalami kesulitan untuk mempertahankan kesejahteraan psikologi dan ketahanan emosional yang membuat mereka lebih rentan terhadap hasil kesehatan mental yang buruk (Schwindenhammer, 2014).
Kesepian yang dialami pasien ICU seringkali memicu kecemasan terhadap kematian yang merupakan salah satu bentuk distress psikologis yang mendalam (Yildirim et al., 2024). Hasil penelitian yang telah ditelaah menunjukan bahwa kecemasan akan kematian pada pasien ICU erat kaitannya dengan perasaan kesepian dan kurangnya dukungan sosial memperburuk ketakutan terhadap kematian (Yildirim et al., 2024).
Selain itu, kesepian juga mengakibatkan tingkat harapan hidup pasien juga cenderung menurun ketika mereka terisolasi (Bulut et al., 2023). Pasien ICU yang mengalami kesepian sering kali mengalami penurunan harapan hidup. Perasaan kesepian ini membuat pasien lebih pesimis terhadap kemungkinan sembuh atau pulih yang dapat berdampak negatif pada motivasi dalam proses perawatan. Kondisi emosional dan psikologis yang terganggu ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental pasien, tetapi juga memperburuk kondisi fisik pasien dengan demikian memperpanjang masa perawatan dan menghambat pemulihan fisik secara keseluruhan (Bulut et al., 2023).
Dampak kesepian pada kualitas hidup pasien ICU dapat dilihat sebagai hasil dari kombinasi berbagai faktor psikologis, sosial, dan fisik yang saling memengaruhi satu sama lain (Shdaifat & Al Qadire, 2022). Penurunan kualitas hidup ini tidak hanya terbatas pada masa perawatan di ICU, tetapi juga berdampak jangka panjang pada kesejahteraan mental dan kemampuan sosial pasien setelah keluar ICU (Bartoli et al., 2021). Kesepian secara substansial menurunkan kesehatan mental dan berimplikasi pada kualitas hidup pasien secara menyeluruh (Neville et al., 2022; Bulut et al., 2023; Torun et al., 2023).
Berdasarkan perspektif psikologis, kesepian memicu stres emosional berkepanjangan, meningkatkan risiko depresi, dan kecemasan (Lehmkuhl et al., 2024; Torun et al., 2023). Sebagaimana dijelaskan pada salah satu artikel yang ditelaah adanya korelasi dengan penurunan kualitas hidup yang signifikan selama dan setelah masa perawatan ICU (Neville et al., 2022). Perasaan kesepian yang berlarut dapat menghambat proses pemulihan psikososial pasien. Pasien yang mengalami kesepian cenderung menghadapi kesulitan dalam membangun kembali hubungan sosial, rasa keterasingan yang timbul selama masa perawatan dapat memperlemah kemampuan interpersonal dan kepercayaan diri mereka menurunkan kesehatan mental dan berimplikasi pada kualitas hidup pasien secara menyeluruh (Bulut et al., 2023). Penurunan kualitas hidup pasien juga dapat mengganggu pada kesehatan fisik yang berpotensi memperpanjang masa pemulihan dan meningkatkan risiko komplikasi kesehatan lainnya (Neville et al., 2022). Dampak kesepian pada kualitas hidup pasien ICU menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam perawatan. Intervensi yang mempertimbangkan aspek kualitas hidup pasien dapat membantu memitigasi dampak negatif kesepian pada pasien.
2. SIMPULAN
Kesepian di ICU memberikan dampak yang signifikan pada berbagai aspek kesehatan pasien. Perasaan kesepian yang dialami dapat menyebabkan penurunan kesehatan mental, peningkatan risiko gangguan psikologis seperti depresi, dan kecemasan, serta memperpanjang waktu pemulihan fisik. Tinjauan naratif ini juga menyoroti pentingnya memahami dimensi psikososial yang sering diabaikan dalam perawatan intensif, meliputi kesejahteraan emosional dan sosial pasien. Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharapkan tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga memberikan perhatian pada dukungan psikologis dan sosial guna memperbaiki kualitas hidup pasien ICU.
Kesepian pada pasien ICU memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek kesehatan, baik fisik, psikologis, maupun sosial. Perasaan kesepian dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan, menurunkan kualitas hidup, serta memperlambat proses pemulihan pasien. Oleh karena itu, aspek psikososial perlu menjadi bagian penting dalam perawatan pasien di ICU, tidak hanya berfokus pada kondisi fisik semata.
Upaya untuk mengurangi kesepian dapat dilakukan melalui pendekatan yang holistik, seperti meningkatkan komunikasi terapeutik antara tenaga kesehatan dan pasien, memberikan dukungan emosional yang berkesinambungan, memfasilitasi keterlibatan keluarga sesuai kebijakan rumah sakit, serta melakukan skrining dini terhadap kondisi psikologis pasien. Dengan demikian, intervensi yang memperhatikan aspek psikososial diharapkan mampu mengurangi dampak negatif kesepian, meningkatkan kualitas hidup, serta mendukung proses pemulihan pasien ICU secara optimal.
Sumber : Holistik Jurnal Kesehatan
INFORMASI ARTIKEL Received: March, 10, 2025 Revised: April, 29, 2025 Available online: May, 01, 2025 at : https://e-jurnal.iphorr.com/index.php/hjk